Karcis Parkir Misterius Bergentayangan

Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Surakarta menemukan dua karcis parkir di Solo yang menggunakan dasar penghitungan berbeda. Temuan itu didapatkan saat verifikasi lapangan atas banyaknya aduan dari masyarakat.

 

Wakil Ketua BPSK Surakarta, Bambang Ary Wibowo menunjukkan jika salah satu karcis menggunakan penghitungan per satu jam. Sedangkan karcis satunya menggunakan perhitungan per 12 jam. “Pemerintah mau menggunakan yang mana,” katanya mempertanyakan.

 

Temuan berupa dua karcis parkir tersebut menurutnya menunjukkan kesemerawutan dalam pengelolaan parkir. Dia mengaku belum tahu apakah karcis itu asli atau palsu. “Jika hingga akhir Februari tidak diperbaiki, kami akan membawa ke jalur hukum,” kata Bambang.

 

Dia menyebut, saat ini BPSK panen aduan dari masyarakat terkait tarif parkir. Rata-rata, masyarakat mengeluhkan ketidakjelasan tarif parkir yang berlaku sejak awal tahun ini. “Kami telah menerima 65 aduan,” katanya.

 

(laporan: Abu Nida)

Kereta Lebaran yang Manusiawi

Kereta api lebaran pada tahun ini memang terlihat lebih manusiawi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tidak terlihat adanya penumpang yang menumpuk layaknya ikan asin, termasuk di kereta api kelas ekonomi.

Baca selebihnya »

Pelajaran dari Transjakarta

Karena alasan tugas, dengan terpaksa sejak Januari lalu saya hijrah ke Ibu Kota. Selama dua bulan di Jakarta, memang tidak banyak pengalaman yang saya dapat.

Jakarta, saya rasa, mirip-mirip dengan Solo. Bangunan megah memang banyak, tapi rumah kumuh jauh lebih banyak. Mobil mewah memang melimpah, namun juga harus berhimpitan dengan bajaj yang separuh bobotnya berasal dari dempul dan puluhan lapis cat ulang. Baca selebihnya »

Wolak Walik Ing Jaman

Peraturan di Indonesia memang seringkali berganti. Peribahasa bilang, ganti menteri, ganti aturan. Masih mending jika aturan tersebut bersifat meneruskan atau menyempurnakan. Terkadang justru sebaliknya, seringkali aturan yang baru sangat bertolak belakang dengan aturan yang lama. Alhasil, rakyat kecil menjadi bingung. Ujung-ujungnya, sanksi membayangi mereka.

Baca selebihnya »

kata-kata yang kudengar tiap hari

Mohon perhatian para pengguna jalan raya, perlu kami beritahukan sesuai dengan UU nomor 13 tahun 1992 tentang Perkeretaapian Indonesia, bahwa setiap pemakai jalan raya yang hendak melintasi jalan kereta api wajib mendahulukan lewatnya kereta api.

Palang pintu perlintasan bukan alat pengaman utama dan bukan merupakan rambu lalu lintas, tetapi hanyalah alat bantu untuk mengamankan perjalanan kereta api.

Untuk itu berhati-hatilah setiap akan melintasi perlintasan kereta api. Di lokasi lain masih banyak perlintasan yang tidak dijaga dan tidak berpintu, oleh sebab itu patuhilah rambu-rambu lalu lintas yang ada.

Dengan mematuhi peraturan lalu lintas berarti Anda telah berusaha menyelamatkan diri sendiri, keluarga, dan rekan-rekan Anda dari bahaya kecelakaan.

Hingga saat ini, telah banyak korban meninggal sia-sia karena kelalaian dan ketidakdisiplinan ketika melewati perlintasan kereta api.

Terima kasih atas kedisiplinan Anda dalam berlalu lintas. Semoga selamat sampai tujuan.

Listrik…..oh..Listrik

Sungguh rumit mengikuti gonjang-ganjingnya masalah kelistrikan di Negara kita ini. Sumber daya alam yang sedemikian melimpah ternyata tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan listrik. Hingga PLN terpaksa melakukan pemadaman bergilir, walaupun menuai protes dari berbagai pihak. Yang jelas kondisi tersebut membuat saya harus berkali-kali bertandang ke kantor PLN Area Jaringan Pelayanan Surakarta.

Namun ada hal yang menarik yang ditemui di kantor sebuah BUMN tersebut. Biasanya seorang produsen berharap agar dagangannya laris manis. Namun PLN tidak. Dirinya gencar mengkampanyekan gerakan hemat listrik. Kalau bisa pelanggan membeli listrik sesedikit mungkin. Untuk yang biasa bergerak di dunia marketing tentu akan terheran-heran dengan ajakan ini.

Yang cukup membuat salut adalah begitu konsekuennya kantor PLN ini. Memasuki lorong-lorong kantor PLN, kita akan menemui suasana remang-remang. Ruangan di mana tidak ada orang, lampu dimatikan. Ruangan pun agak gerah, karena pemakaian mesin pendingin ruangan tidak dihidupkan secara maksimal. Mereka tidak sekadar mengajak, tapi telah mempraktekannya lebih awal.

Silahkan anda lewat ke kantor yang berada di Jalan Slamet Riyadi tersebut pada malam hari. Tidak ada sebuah lampu pun yang menyala, selain lampu di pos Satuan Pengamanan (Satpam) dan dip agar untuk penerangan jalan. Dibalik tudingan ketidakbecusan menangani listrik di negeri ini, ternyata PLN tetap menunjukkan sikap yang konsekuen.

Bantuan Cempe Tunai (BCT)

Dari judulnya pasti sudah pada tahu bahwa saya ingin ikut urun rembug masalah Bantuan Langsung Tunai yang akan diberikan oleh pemerintah sebagai kompensasi kenaikan harga BBM. Hanya saja bagi yang belum familiar dengan Bahasa Jawa mungkin tidak tahu apa yang dimaksud dengan cempe. Ya, cempe adalah anak kambing.

Baca selebihnya »

EYD terbaru versi 2008

Seorang kawan nampaknya cukup care dengan saya. Tahu kalau saya hobby menulis, ia mengirimkan sebuah email yang katanya merupakan pakem Ejaan Yang Disempurnakan versi 2008. Menurutnya pula, EYD ini telah disepakati oleh para ahli bahasa dalam sebuah kongres. Maka dari itu, saya ingin share dengan warga WP yang lain, yang mestinya juga hobby dalam tulis-menulis. Demikian email dari teman saya:
Baca selebihnya »

Pemimpin yang Aneh

Pernahkah anda merasa sedih karena ditakdirkan untuk hidup di Indonesia? Setiap kali kita direcoki semangat untuk bangga bartanah air, teringat pula laju perkembangan negara lain yang jauh lebih pesat daripada kemajuan bangsa kita. Tidak bisa dipungkiri, kemajuan suatu bangsa sangat tergantung pada siapa yang memimpin. Celakanya, beberapa pemimpin kita justru memberikan anjuran yang justru membuat kita menjadi terpuruk.
Ada salah seorang pemimpin kita yang cukup dikenal dengan semboyannya Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Itulah mungkin yang membuat banyak orang tidak punya cita-cita. Jika pun punya, cita-citanya hanya dibiarkan menggantung ditempat yang tinggi.
Pemimpin yang lain mempunyai mantra yang lebih bagus lagi. Marilah kita mengejar ketinggalan! Ajakan ini terkesan aneh, sebab sebenarnya kemajuanlah yang harus kita kejar. Ketinggalan ya harus ditinggal.
Ada pula yang memiliki program Pengentasan kemiskinan. Program ini tergolong program yang cukup kacau, sebab seharusnya justru kemakmuranlah yang harusnya dientaskan. Kemiskinan harus ditenggelamkan.
Tekad kita sudah bulat,” kata yang lain. Entah, yang dimaksudkan olehnya tekad ataukah nekad. Lagipula mungkin karena bulat itulah nasib bangsa kita tidak ada ujung dan pangkalnya.
Halah…gitu aja kok repot

Profesi???

Pada suatu hari, saya diajak oleh mantan boss saya untuk nJagong di Magelang. Saya sebut mantan boss bukan karena dia turun jabatan, tapi karena dia sekarang menjadi boss orang lain di sebuah media cetak. Dengan ditemani oleh istri dan putrinya yang masih kelas 1 SD, meluncurlah kami ke kota seribu salak ini. Obrolan-obrolan ringan menemani perjalanan kami. Tidak banyak yang saya ingat. Namun salah satu yang membuat saya terkesan, adalah celoteh si kecil yang menolak bercita-cita sebagi dokter.

Saya sudah tidak ingat lagi, apa cita-cita saya pada waktu seusianya. Atau mungkin memang saya sama sekali tidak punya cita-cita. Wajar, jika hari ini saya akhirnya hanya menjadi buruh kecil di perusahaan tempat saya mencari kesibukan.

Beruntunglah si kecil itu, yang sejak SD telah mempunyai cita-cita sebagai guru. Bahkan ibunya harus tersenyum simpul ketika cita-cita dokter yang ditawarkannya ditolak mentah-mentah oleh si kecil. Mungkin Si Kecil sadar, bahwa untuk menjadi dokter membutuhkan biaya yang sangat besar. Menurut penuturan saudara saya yang juga seorang dokter, dirinya terpaksa memupus harapannya untuk menjadi seorang dokter spesialis kandungan karena harus menyiapkan biaya pendidikan sekitar Rp 800 juta. Sepertinya Sang Putri paham –bukan bermaksud merendahkan– biaya sebesar itu pasti sulit terjangkau oleh kedua orang tuanya yang sama-sama berprofesi sebagai jurnalis. Dia juga tidak tergiur dengan iming-iming orang tuanya yang mengatakan bahwa jadi dokter bisa kaya.

Akhirnya, sang orang tua mengalah membiarkan putrinya bermimpi memiliki profesi yang mulia tersebut. Untung, mereka tidak menawarkan cita-cita sebagaimana profesi orang tuanya. Get your dreams girl…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.