Industri obat merupakan sebuah industri yang berusia cukup tua. Diperkirakan, industri ini mulai berkembang hampir bersamaan dengan lahirnya ilmu kedokteran. Namun tidak ada literatur yang dapat memastikan di mana industri ini pertama kali lahir. Namun, negeri China merupakan salah satu negara yang memulai memajukan industri farmasi.
Di Indonesia, industri farmasi merupakan industri yang cukup besar. Tentu saja, sebab penggunaan teknologinya juga tergolong tinggi. Tentunya, mereka membutuhkan ujung tombak pemasaran hasil produksinya kepada masyarakat yang membutuhkan. Karena itulah lahir banyak apotek.
Kondisi kesehatan yang kurang baik di Indonesia, menyebabkan banyak pengusaha menganggap apotek merupakan bisnis yang cukup menggiurkan. Apaplagi tentunya dengan munculnya berbagai macam penyakit, yang menyebabkan konsumsi obat masyarakat bertambah. Akhirnya, banyak bermunculan apotek-apotek di berbagai sudut kota, yang menyebabkan tingkat kompetisinya cukup ketat. Sayangnya, berdasarkan peraturan yang ada, apotek dilarang untuk beriklan. Pengusaha apotek pun mencari strategi lain agar dapat memenangkan persaingan antar apotek yang ada.
Masalah lokasi tentunya menjadi salah satu factor yang cukup dominan. Apotek Kencana yang terletak di kawasan Yosodipuro pernah merasakan manisnya penjualan yang disebabkan oleh letaknya yang strategis. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, Rumah Sakit Umum Pusat dr Moewardi Solo terletak di kawasan Mangkubumen, di depan Apotek Kencana tersebut. Apotek tersebut sempat kuwalahan melayani pengunjung yang membludag. Namun sayang, setelah RSUP Muewardi dipindahkan ke daerah Jebres, secara drastis omset apotek tersebut merosot. Para pelanggan yang merupakan pasien RSUP pun beralih ke apotek-apotek di dekat RSUP yang baru. “Jika ada yang beli pun, biasanya obat generik,” kata Endang, salah satu karyawan yang telah 15 tahun bekerja di tempat tersebut.
Pemilik apotek tersebut, Santoso, berusaha memeras otak. Jika keadaan terus stagnan, bisa saja bisnis yang telah dibangunnya gulung tikar. Strategi yang ia lakukan adalah dengan membuka praktek dokter spesialis di samping apoteknya. Dengan adanya lima dokter spesialis yang praktek di tempat itu, lambat laun jumlah konsumen apoteknya bertambah ramai. Ibaratnya one stop service, pasien ketika keluar dari tempat praktek bisa langsung menebus resep di apotek yang terletak disebelahnya.
Strategi serupa ternyata juga diterapkan oleh Apotek Padma di bilangan RM Said Turisari Solo. Menurut Dwi Endah Palupi, manager Apotek Padma, pihaknya mengusung konsep Padma Health Centre. Selain apotek, pihaknya juga membuat sebuah klinik kesehatan keluarga dan fitness centre. “Semuanya dalam satu kompleks,” kata Prof DR dr Didik Tamtomo, pemilik Padma Health Centre. Konsep yang diusungnya cukup jitu, terbukti dengan jumlah konsumennya yang cukup banyak. “Kita tidak sekedar mencari profit, namun juga bagaimana melayani masyarakat, termasuk bagaimana menyejahterakan karyawan,” tutur Didik yang mengaku peraih gelar Magister Kesehatan Keluarga pertama di Indonesia.
Selain menjadikan sebuah pusat kesehatan, Apotek Kencana ternyata juga menggandeng beberapa korporat. Teknisnya, karyawan dari korporat yang telah menjalin kerjasama, bisa mendapatkan pemeriksaan di kliniknya dengan fasilitas tertentu. Misalkan diskon atau dalam bentuk asuransi kesehatan. Rupanya cukup banyak korporat yang tertarik dengan program tertentu. “Telkom merupakan pelanggan setia kita,” kata Endang. Tentunya, pasien tersebut akhirnya menebus resep di apotek Kencana tersebut. Antara apotek dan klinik menjadi sebuah sinergi yang bisa saling mendukung.
24 Jam
Yang namanya penyakit tentu tidak dapat diprediksi kapan datangnya. Kadang kala terjadi tengah malam. Di saat itu, masyarakat sangat susah mencari apotek yang buka. Apotek Padma menangkap peluang tersebut dengan membuka penuh apoteknya selama 24 jam nonstop.
Buka selama 24 jam, ternyata perlu perjuangan khusus. Tentunya, dia terpaksa menambah jumlah karyawannya untuk piket di malam hari. “Selama dua tahun pertama, kita selalu nombok,” kata Endah kepada SAUDAGAR. NAmun lambat laun, jumlah pelanggannya mengalami peningkatan secara konsisten, sehingga kini berhasil merasakan segarnya bisnis apotek.
Menurutnya, perlu pelatihan khusus kepada karyawan yang berjaga di malam hari. “Tentunya mereka diajari bagaimana melayani konsumen dengan baik walaupun mungkin telang mengantuk,” tutur Endah. TEntu saja ia mengingatkan kepada karyawannya agar melakukan cek ulang terhadap obat yang akan di berikan kepada konsumen. Jangan sampai terjadi kesalahan pemberian obat kepada konsumen, karena obat merupakan masalah nyawa.
Agak spektakuler adalah strategi yang dilakukan oleh Apotek K-24. Apotek yang dimiliki oleh Gideon Hartono tersebut juga menerapkan buka selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan 365 hari setahun. Pendek kata, apotek ini tidak pernah tutup. “Makanya kita berani pakai nama K-24,” kata Gideon kepada SAUDAGAR beberapa saat silam. Menurutnya, nama tersebut berarti komplet obatnya dan 24 jam bukanya.
Strategi yang diterapkan Apotek K-24 ternyata cukup jitu, sehingga banyak keuntungan financial yang dapat diperoleh. Tak heran, apotek tersebut memperoleh penghargaan dari MURI sebagai apotek asli Indonesia yang dapat di-franchise-kan. Tidak tanggung-tanggung, telah puluhan tempat ia telah berhasil membuka waralaba di berbagai daerah.
Menurut Gideon, baik siang hari maupun malam hari, harga obat diapoteknya tetap sama. “Tidak kita naikkan di malam harinya,” kata Gideon. Karena itu, tak heran jika apotek K-24 di manapun selalu dipadati konsumen.
Jumlah jenis obat di apotek K-24 juga tergolong komplet. “Agar kita bisa memberikan obat kepada konsumen sesuai resep,” kata Gideon. Dirinya mengaku melengkapi apoteknya dengan 60% jenis obat yang ada di Indonesia. “Di apotek lain, jarang ada yang punya stock lebih dari 50% dari seluruh jenis,” kata dokter gigi tersebut.
Memang strategi yang dijalankan oleh apotek K-24 cukup jitu. Ketika apotek lain masih berjuang mencari konsumen, apotek K-24 telah berhasil mewaralabakan usahanya.
[majalah saudagar]
DIarsipkan di bawah: Bisnis

Ada pertanyaan yang perlu diklarifikasi, sebenarnya apotek itu bisnis atau bukan ? Kalau bisnis mengapa dilarang beriklan ? Kalau bukan mengapa di franchise kan ?
Apotek adalah bisnis. Buktinya, membuka apotek dapat memberikan keuntungan. Seperti halnya rumah sakit,sekolah dan yang lain. Jadi kurang lebih sebuah bisnis yang bergerak dibidang sosial.
Jika ada yang salah, mungkin justru regulasinya. Hingga sekarang, belum jelas alasan mengapa apotek tidak boleh beriklan. Namun, ternyata sekolah dan kampus bisa tetap beriklan. Profil rumah sakit pun banyak yang menghiasi lebar advetorial di media.
kalo boleh minta daftar obat yg disediakan termasuk pemesanan stok, jika ada bukunya sy mau beli. bkn buku iso krn membingungkan dr segi bisnis.
Mau share nich… waktu sekitar setahun yang lalu saya sempat beli salycil talk di K-24, saya dihadapkan pada pilihan yang banyak dengan merek talk yang beragam… ketika saya bingung dan meminta penjelasan mengenai perbedaan produknya, hanya dijawab dengan kata ” tidak tahu”. wah, bukankah apotik harus dijaga dengan apoteker/ paling tidak sarjana farmasi yang mengerti semua produk yang dijualnya agar masyarakat yang awam bisa mendapat informasi mengenai obat2 yang dibeli.
lalu apa bedanya apotik dengan toko obat..?!
hal demikian nggak pernah saya jumpai di apotik kimia farma dimana pun… yang saat ini juga sudah mengusung model swalayan.
anyway..nggak ada niat menjelek2kan atau mempromosikan apotik tertentu lho…
hanya sekedar share yang semoga bisa bermanfaat buat siapa aja…
idealnya apoteker di apotek juga melayani konsultasi layaknya dokter. bedanya apoteker bermain di wilayah obat.
strategi lain yg bisa dijalankan apotek adalah menjalin kerja sama dg perusahaan-perusahaan yg karyawannya banyak. misalnya karyawan Pabrik rokok X yg beli di apotek Y akan dapat diskon z %.
Idenya boleh juga untuk dapat tetap exis di tingkat persaingan yang cukup jenuh dalam bisnis Apotik. Namun saya masih terkesan kalo Apotik yang sekarang ada dari sisi kenyamanan kurang dan pelayanannya juga masih kurang memuaskan menurut saya apotik yang cukup ideal adalah lihat di http://andyku.wordpress.com/2008/05/09/apotik-abad-21/
[...] 6 bulan yang lalu saya pernah bertanya pada sebuah blog yang mengupas tentang strategi bisnis apotek. Pertanyaan saya, sebenarnya apotek itu bisnis atau bukan ? Kalau bisnis mengapa tidak boleh [...]
Bagaimana cara menjalin kerjasama bisnis (consignment base) dengan apotik2 yang sudah mempunyai nama?
Dan sebagai distributor produk kesehatan, apakah saya bisa melakukan kerjasama bisnis dengan drug’ s store atau century apotik dan lain-lain ?