Bahasa iklan di media massa maupun reklame acapkali mendapatkan protes dari masyarakat. Khususnya iklan operator selaular. Sering bahasa yang digunakan dianggap menyesatkan. Berbagai apologi dikeluarkan oleh pihak pemasang iklan. Namun, pernahkah kita berpikir, bahwa terkadang rambu lalu lintas pun memiliki bahasa yang terkadang cukup aneh.
Ketika saya memasuki jalan di sebuah kampung, pernah saya membaca rambu yang dipasang oleh warga. Tulisannya
JALAN PELAN PELAN BANYAK ANAK
Saya asumsikan, jika saya merupakan warga negara yang ingin mensukseskan program KB, maka saya harus ngebut. Karena jika saya berjalan pelan, bisa punya anak banyak.
Kemudian saya berjalan melewati perempatan kecil. Lampu pengatur lalu lintas menyala merah. Karena saya ingin belok kiri, saya pun berniat untuk tidak berhenti. Ups…ternyata di tiang lampu tersebut tertulis rambu
KE KIRI IKUTI LAMPU
Saya jadi senyum sendiri. Mungkin saya salah dalam mengartikan. Tapi menurut saya, jika saya mengikuti lampu berarti saya hanya akan berhenti terus. Soalnya, lampu tidak pernah pergi kemana-mana.
Pernah juga saya akan menengok teman di sebuah rumah sakit. Sebelum pertigaan menjelang rumah sakit, terdapat papan besar penunjuk arah bertuliskan:
RUMAH SAKIT DR XXXX
24 JAM
padahal saya tahu, hanya perlu 2 menit untuk bisa sampai ke rumah sakit tersebut.
Makanya, jika anda melewati pertigaan yang bertuliskan
LURUS JALAN TERUS
Jika anda merasa berambut ikal atau keriting, anda harus berhenti.
Tapi tenang. Saya yakin kalau untuk rambu, masyarakat sudah cukup cerdas mengartikannya. Tidak seperti iklan yang menyesatkan.
DIarsipkan di bawah: Celotehku

sama halnya dengan http://ressay.wordpress.com/2008/04/11/rakyat-tidak-laparrakyat-tidak-sakit/
mas, tak kopi ke tempatku boleh ga…???
[...] oleh amaduq01 di/pada April 22, 2008 Rambu yang Aneh Cerita ini saya peroleh dari blog kawan: [...]
Boleh di copi..
apalagi ngopi bareng..kapan nih?hehe
wakakakakaka, baru nyadar. Bener juga Om. Mungkin waktu bikin Rambu gak konsultasi dulu ama J.S Badudu, hehehehehehe