Menata Pasar Dengan Hati

(dimuat di Majalah saudagar)

Sempitnya lapangan kerja di bidang formal membuat masyarakat perlu kreatif dalam mendapatkan penghidupan. Apalagi lembaga pendidikan masih terus menghasilkan output yang cukup besar. Semua bersaing dalam mencari pekerjaan. Pemerintah sepertinya masih belum mempunyai formula yang cukup ampuh untuk mengatasi pengangguran. Hal tersebut memberi kontribusi yang cukup besar dari besarnya angka kemiskinan di Indonesia.

Tidak aneh jika ditengah kebutuhan hidup yang semakin mendesak, menjadi pedagang kaki lima merupakan sebuah pilihan. Usaha mikro ini tak dapat dipungkiri mampu menjadi solusi bagi para pengangguran. Tidak dapat dipungkiri juga jika para PKL memberikan kontribusi yang cukup besar bagi bergeraknya roda ekonomi bangsa. Bahkan banyak pihak yang yakin bahwa PKL ini mempunyai sifat tahan banting, termasuk ketika terjadi krisis ekonomi. Ketika banyak perusahaan gulung tikar waktu itu, sector usaha mikro termasuk PKL mampu tetap survive bahkan terus berkembang. Bahkan akhirnya mampu menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat.

Namun, keberadaan mereka tetap menjadi sebuah dilema bagi pemerintah. Di satu sisi mereka memberikan sumbangan yang cukup besar bagi pemerintah dalam bentuk retribusi. Selain itu, mereka telah turut serta menggerakkan perekonomian. Lebih dari itu, kehadiran mereka memberikan solusi atas besarnya angka pengangguran, dimana pemerintah pun belum bisa memberikan penyelesaian. Namun di sisi lain, mereka dianggap telah mengganggu ketertiban dan kenyamanan kota. Keberadaan mereka memang seringkali memanfaatkan fasilitas umum seperti misalnya trotoar. Fasilitas yang seharusnya digunakan oleh pejalan kaki ini tidak bias digunakan semestinya sebab dipenuhi oleh para PKL. Selain itu, keberadaan mereka yang semrawut mengganggu keindahan kota.

Solo dan Jogja merupakan dua kota yang dipenuhi oleh para PKL. Di Solo, tak kurang dari 5.000 PKL memenuhi berbagai fasilitas umum. Angka tersebut pun sebenarnya masih belum riil. Di beberapa titik, satu lapak PKL bisa digunakan oleh dua orang secara bergantian di siang hari maupun malam hari. Namun menurut FX Hadi Rudyatmo, Wakil Walikota Surakarta, keberadaan PKL memang merupakan potensi ekonomi yang cukup besar. Keberadaan mereka perlu dipertahankan, namun harus ditata sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu ketertiban. Hal serupa juga dikatakan oleh Achmad Fadli, Kepala Dinas Pengelola Pasar Jogja, yang menyebutkan bahwa PKL merupakan sebuah aset. “Hanya saja kalau bisa mereka kita formalkan melalui pasar,” kata Fadli kepada Majalah SAUDAGAR.

Kesuksesan Kota Surakarta dalam memindahkan PKL dari kawasan Banjarsari ke Pasar Notoharjo, sedikit banyak menginspirasi kota Jogja untuk melakukan hal yang sama. Jogja juga telah berhasil memindahkan 719 PKL di wilayah Jl Mangkubumen, Jl Asem Gede dan Alun-alun Selatan ke Pasar Pakuncen pada November lalu. “Syukur, kita bisa memindahkan mereka tanpa adanya gejolak,” kata Fadli. Hal tersebut telah dialami oleh Pemkot Surakarta yang berhasil memindahkan 1.018 pedagang klitikan Banjarsari ke Notoharjo tanpa gejolak apapun. Bahkan kirab pemindahannya yang terjadi pada Juli 2006 tersebut sempat tercatat di Musium Rekor Indonesia.

Keberhasilan kedua kota tersebut dalam memindahkan PKL ke pasar yang baru dengan tanpa gejolak bukanlah merupakan suatu kebetulan. “Kita melakukan pendekatan yang masif kepada para pedagang terlebih dahulu,” kata Fadli. Pendekatan serupa juga dilakukan oleh Pemkot Surakarta. Walikota sebelum mengutarakan rencana pemindahan telah terlebih dahulu mengundang para pedagang untuk beramah tamah. Pada pertemuan yang ke 57, barulah walikota mengutarakan rencana pemindahan tersebut. “Kuncinya, kita harus membuat perencanaan yang matang, jangan sampai omset para pedagang turun setelah berpindah ke tempat yang baru,” kata Fadli.

Banyak usaha penertiban PKL di kota lain yang ujung-ujungnya berakhir dengan gejolak perlawanan. Usaha dua kota dalam membangun pasar klitikan terebut memang cukup fenomenal. Kota Solo telah berhasil memindah pedagang klitikan dalam jumlah yang sangat besar tanpa gejolak. Obsesinya menciptakan sebuah pasar klitikan terbesar di Indonesia bukan mustahil dapat terwujud. Namun, sempat terjadi kekhawatiran dari para pedagang karena sepinya pengunjung. Omset mereka turun cukup drastis. Seperti yang diungkapkan oleh Sri Lestari misalnya, pemilik kios Zain Sport pada awal kepindahannya satu tahun yang lalu. ”Di Banjarsari sehari bisa dapat satu juta. Di sini separuhnya saja tak ada,” ujarnya.Namun setelah satu tahun kepindahan, kini omset para pedagang telah berangsur-angsur mengalami peningkatan. Jumlah pengunjung lambat laun kian meningkat.Pasar Klithikan Notoharjo, di Semanggi, Solo, memang cukup nyaman untuk berjualan. Pasar baru ini terdiri tiga blok berlantai dua. Pembeli pun cukup mudah menemukan barang yang diinginkan karena pedagang dikelompokkan sesuai jenis barang yang dijual.

Pasar Pakuncen Jogja sebaliknya. Walaupun jumlah pedagang yang dipindahkan lebih kecil, namun pengunjungnya langsung membludag, walaupun diakui oleh Fadli bahwa omset pedagang belum sebanyak ketika mereka belum pindah. Namun ia memandang bahwa hal tersebut sangat wajar. “Kami optimis bahwa dalam waktu singkat jumlah pengunjung bisa kembali normal,” kata Fadli.

Beberapa stimulan diterapkan guna meningkatkan jumlah pengunjung pasar. “Pasar Pakuncen merupakan satu-satunya pasar yang buka dari pagi hingga malam hari,” kata Fadli. Hal tersebut disesuaikan dengan kebiasaan para pedagang, utamanya yang bearsal dari Jl Mangkubumen yang biasa buka pada malam hari. Selain itu Pemkot Jogja juga mengadakan hadiah undian bagi para pengunjung. “Tak tanggung-tanggung, hadiahnya berupa sepeda motor,” kata Fadli.

Bagi para pedagang, pemkot menciptakan kondisi yang hampir sama dengan kondisi sebelum mereka pindah. Seperti dijelaskan oleh Fadli, pasar tersebut tidak dilengkapi dengan penyekat, sebab dimanapun yang namanya pasar klitikan memang biasa oprokan. “Kita usahakan kondisinya sama,” kata Fadli. Selain itu, sebagai penyimpanan barang, dibuatlah bunker-bunker penyimpanan yang bisa dimanfaatkan oleh para pedagang. Baik para pedagang maupun pengunjung diharapkan tidak mengalami suasana yang berbeda dengan sebelum mereka pindah. Diharapkan, kedepan pasar ini bias menjadi sebuah daya tarik wisata. “Sebab dagangan mereka tidak dapat ditemui ditempat lain,” kata Fadli. Untuk itu, para pedagang diharapkan bersedia memakai pakaian tradisional agar lebih menarik. Nampaknya, himbauan ini juga ditanggapi secara positif oleh para pedagang.

Untuk memberikan stimulan lain, Menteri Koperasi dan UKM Surya Dharma Ali memberikan bantuan modal kepada para pedagang. Bantuan awal sebesar Rp 500.000 akan disalurkan kepada para pedagang melalui Koperasi Ngesti Rahayu. “Kita harapkan awal tahun 2008 bantuan ini telah dapat di cairkan,” kata Fadli. Pihaknya akan segera memproses agar bantuan tersebut dapat segera turun. Di PasarKlitikan Notohardjo Solo, sampai satu tahun pasar tersebut diresmikan, bantuan menteri sebesar Rp 1 miliar belum juga turun. Menurut Fadli, Menteri Koperasi dan UKM juga tengan mempersiapkan hadiah undian bagi para pedagang. “Hadiahnya umroh,” katanya. Jika nanti pemenangnya beragama Islam, hadiah tersebut tidak bias diuangkan. Dengan kata lain, hadiah harus dipakai untuk umroh. Sedangkan jika pemenangnya bukan beragama Islam, hadiah dapat diuangkan sebesar 1.000 US Dollar.

Tidak dapat dipungkiri, proses penataan PKL di kedua kota tersebut sangat layak menjadi sebuah percontohan bagi daerah lain. Jangan sampai penertiban yang dilakukan justru mematikan jiwa entrepreneur para pedagang. Penggusuran memang selayaknya dilakukan dengan hati, bukan dengan bolduzer. Dengan menempatkannya ke dalam pasar, berarti telah meningkatkan status mereka dari pekerja informal menjadi pekerja sektor formal ( Majalah Saudagar -rafiq/)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: