Ketahanan Pangan atau Menahan Makan?

(dimuat di majalah saudagar)

Beberapa waktu terakhir merupakan hari-hari buruk bagi para penggemar tempe dan tahu. Makanan rakyat tersebut kini bukan barang murah lagi. Di pasaran harga makanan padat gizi tersebut membubung tinggi. Atau jika harganya tidak naik, bentuknya berubah menjadi lebih kecil. Hal itu terjadi lantaran harga kedelai yang masih melambung hingga dua kali lipat. Seperti di Yogya misalnya, kedelai yang dahulu seharga Rp 3.500 kini naik hingga mencapai Rp 7.500.

Tidak ada pilihan lain dari produsen tahu tempe kecuali menaikkan harga. Kemasannya pun dibuat lebih kecil daripada biasanya. Ujung-ujungnya konsumen lebih memilih mengganti menu lauk dengan komoditas lain. Masyarakat terbiasa mengonsumsi tahu tempe lantaran harganya yang cukup murah meriah.

Predikat Indonesia sebagai negara agraris nampaknya sudah berakhir. Untuk memenuhi kebutuhan kedelai negara masih harus mengimpor sebanyak 1 juta ton. Sementara itu, petani kita baru mampu memproduksi 800 ribu ton

Menurut data dari Departemen Pertanian, tahun 1992 produksi kedelai mencapai puncaknya dengan hasil panen 1,8 juta ton. Sejak tahun 1993 terus menurun. tahun 2003 tinggal 671.600 ton disebabkan gairah petani menanam kedelai turun dipicu masuknya kedelai impor harga dengan murah. Murahnya kedelai luar negeri akibat kemudahan impor kedelai, bea masuk impor nol persen

Tahun 2004 hingga 2006 produksi mulai meningkat namun sangat lambat sebesar 723.483 ton (2004), 808.353 ton (2005) dan 746.611 ton (2006). Tahun 2007 turun kembali 20 % dari 2006 menjadi 608.000 ton.

Selain kedelai, banyak komoditas lain yang produksinya mengalami penurunan. Beras sebagai makanan pokok rakyat masih harus dicukupi dengan cara impor. Sangat kontras jika dibanding dengan tahun 1986 ketika Indonesia mendapat penghargaan dari FAO karena berhasil berswasembada beras.

Penyempitan lahan pertanian merupakan salah satu sebab. Di Yogyakarta, per tahun lahan yang susut sekitar 0.42 % dari luas keseluruhan atau sekitar 150 Ha hingga 170 hektar,” kata Kabid Ketahanan Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian, Pemprov Yogyakarta, Ir. Budi Martono, MS.i. Kondisi tersebut juga dirasakan oleh hampir seluruh daerah.

Selain lahan, SDM di bidang pertanian semakin hari semakin berkurang. Masyarakat desa pun sudah tidak tertarik menggarap bidang tersebut. Walaupun harga komoditas pertanian naik, kondisi kesejahteraan petani masih sangat kurang. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang membuka lebar kran impor komoditas pertanian. Produk dari petani harus bersaing dengan produk pertanian luar negeri.

Permainan para pedagang besar acap kali membuat persoalan semakin runya. Menurut data Himpunan Kerukunan Tai Indonesia (HKTI), cadangan beras di Indonesia sebenarnya masih cukup aman. Tapi karena ulah para pedagang, seringkali beras menjadi langka. Pemerintah pun kelabakan sehingga menggelontorkan beras dari luar negeri. Belum lagi permainan pedagang pupuk yang membuat ongkos produksi petani menjadi membengkak. Jika tata niaga komoditas pertanian tidak dikelola dengan mengedepankan kerakyatan, petani akan tetap menjadi martir. Petani pun memilih beralih profesi menjadi buruh di kota.

[ahmad rafiq/ Majalah SAUDAGAR ]

Iklan

4 Tanggapan

  1. Tulisan GAYA HIDUP-nya mana Om? Kayaknya SAUDAGAR…Majalah Bisnis dan Gaya Hidup dech!….Ato sekarang ada juga berita-berita POLITIK dan LINGKUNGAN-nya juga yach!

    Bravo…SAUDAGAR! Semoga Redaksinya…tambah SEJAHTERA…;-)

  2. Kok hasil liputan?

    Mbok dari perspektifmu sendiri sebagai manusia indonesia. Dudu budak tinta

  3. Sepertinya petani memang tidak pernah diberi keberpihakan oleh pemerintah ya?? ya akhirnya memang banyak petani yang pilih beralih profesi menjadi pekerja di kota. (salah satunya ya saya ini whekekekekkek..)
    Lha wonk mau nandur tanaman padi, palawija, sayuran, dan buah-buahan perlu modal gede jhe.. dari bibitnya, pupuk, obat-obatan anti hama… semuanya muahall…! Nah giliran waktu panen, harga jual hasil panen anjlog tidak karuan. Kalo begitu terus kan petani dapatnya namung tuna kaliyan tuna alias hanya rugi dan rugi!
    Kemudian ada alternatif, biar para petani tidak tergantung dengan bibit, pupuk, dan obat2 an dari industri/ produsen. Dengan sistem pertanian organik. Bibit, pupuk, dan sebagainya bisa diproduksi sendiri oleh para petani. tapi kok belum banyak yang menjalankan ya.. lha akhirnya saya juga takut mau nyoba..! hehe…
    Salam dari pesisiran kidul, tempatnya para petani lombok, melon, semangka, dan padi bersemayam.

  4. tempe meningkatkan gaya hidup anak kost??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: