Pembatik ampyang kacang cina gula jawa

(dimuat di majalah saudagar)

Tidak mudah menemukan seorang budayawan yang serba bisa. Solo beruntung memiliki salah satunya. Seorang penari sekaligus pembatik, arkeolog, arsitek sekaligus kolektor benda seni. Dia adalah KRT Hardjonagoro.

Hardjonagoro merupakan pria berketurunan Tionghoa. Nama aslinya adalah Go Tik Swan. Ia mendapatkan nama tersebut karena faktor sejarah. Kakek buyutnya yang bernama Tjan Sie Ing, yang Luitenant der Chinezen van Soerakarta itu merupakan orang pertama yang mendapat pacht (hak sewa) atas pasar yang paling besar di Surakarta, yaitu Pasar Gedhe Hardjonagoro.

Go tik Swan

Memasuki rumahnya yang berada di kawasan Kratonan bagaikan memasuki sebuah museum. Banyak benda antik berada di sana.

Rumah yang teduh tersebut dilengkapi dengan dua pendapa. Satu pendopo yang terletak di sebelah selatan rumah memiliki kisah yang bersejarah, karena dahulu merupakan pendapa tempat penobatan Pangeran Puger menjadi Paku Buwono I. Kemudian, untuk pendopo yang lain terletak di belakang rumah. Pendopo itu adalah pendopo kuno dari Kartasura. Dulu pendapa tersebut merupakan kediaman Ndoro Kliwon Suroloyo, Seorang ulama pejabat Suronoto Keraton Surakarta pada zaman pemerintahan Paku Buwono II.

Rumah yang eksotik tersebut menjadi lebih indah karena dihiasi barang-barang kuno. Go Tik Swan sejak dahulu suka mengumpulkan benda-benda kuno bersejarah. Beberapa didapatkan secara tidak sengaja. Namun sebagian besar dari koleksinya tersebut kini telah disumbangkan kepada negara.

Go Tik Swan dilahirkan pada tahun 1930. Karena kesibukan orang tuanya, Go Tik Swan kecil diasuh oleh kakeknya yang bernama Tjan Khay Sing, seorang pengusaha batik. Kakeknya memiliki 1000 pembatik.

Banyak bergaul dengan para pembatik membuat Go Tik Swan mengenal budaya jawa. Kegiatan membatik, uro-uro, mocopat dan tari dikenalnya dengan cukup akrab.” Saya ini adalah seseorang yang dilahirkan sebagai Thionghoa dan dibesarkan sebagai Jawa” kata Go Tik Swan pada Majalah SAUDAGAR.

Tik Swan beruntung bisa bersekolah di Neutrale Europesche Lagere School. Di sana Tik Swan dapat bergaul dengan anak-anak ningrat dan anak-anak pembesar Belanda.Kesempatan tersebut didapatkan, karena buyutnya adalah seorang pemuka dengan pangkat Lieutenant der Chinezen di Boyolali. gelar tersebut merupakan pemimpin masyarakat Tionghoa, berpangkat letnan titular. Di sekolah, ia berteman dengan Bendoro Raden Mas Soerjo Goeritno, yang kelak menjadi Sri Susuhunan Paku Buwana XII dari Surakarta.

Go Tik Swan meneruskan pendidikannya di sekolah menengah pertama yang berpengantar bahasa Belanda (MULO) di Semarang. Lulus dari VHO (Voortgezet Hoger Onderwijs, sebuah SMU) di Semarang, orang tuanya ingin ia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Namun diam-diam ia mendaftar di Fakultas Sastra UI, karena terlanjur cinta dengan budaya jawa. “Orang tua sempat marah begitu tahu pilihan saya,” katanya.

Selain kuliah, di Jakarta Tik Swan belajar menari tarian klasik jawa. Karena giat berlatih, dirinya berkesempatan menari di Istana Negara pada peringatan dies natalis UI. Kehadirannya cukup memukai Presiden Soekarno, yang merasa kagum melihat tarian Go Tik Swan. Presiden kagum karena tarian tersebut mampu dimainkan secara sempurna oleh mahasiswa yang notabene keturunan Tionghoa. Berawal dari sanalah Go Tik Swan memiliki kedekatan secara khusus dengan Soekarno.

Soekarno pun akhirnya mengetahui jika Go Tik Swan merupakan keluarga pembatik. Soekarno meminta kepada Go Tik Swan untuk merancang sebuah batik khas Indonesia. Selama ini menurut Tik Swan, corak batik masih menonjolkan kedaerahan, seperti Batik Solo, Batik Yogya, Batik Pekalongan dan lainnya. Melalui sebuah proses yang panjang, Go Tik Swan pun menciptakan sebuah motif batik yang merupakan perpaduan dari berbagai macam corak yang ada di Indonesia. Pada dasarnya, motif tersebut merupakan hasil perkawinan batik gaya klasik Kraton dengan batik gaya pesisir. Oleh Soekarno, batik ini dinamakan sebagai Batik Indonesia.”Keunggulan batik ini berupa nilai-nilai persatuan dan nasionalisme yang ada di dalamnya,” jelas Go Tik Swan. Hingga kini, kediaman Go Tik Swan masih tetap digunakan untuk memproduksi Batik Indonesia. Nampak beberapa wanita yang sedang memegang canting sembari sesekali meniupnya sebelum menyentuhkan ke selembar kain.

Kedekatannya dengan Soekarno sangat nampak, sebab Soekarno memberikan perhatian yang khusus kepada Go Tik Swan. “Saya mungkin satu-satunya orang yang bebas memasuki kamar beliau,” kenangnya. Tentu saja selain keluarga Soekarno. Bahkan ketika dirinya bercerita akan membangun rumah, Soekarno langsung meminta gambar rancangan rumah yang akan dibangunnya.

Go Tik Swan merancang rumahnya dengan memakai teras di depan rumah. “Teras rumah sedang trend pada masa tersebut,” kata Tik Swan. Namun oleh Soekarno gambar rancangan rumah tersebut di corat coretnya. Ternyata Soekarno memindah teras dari depan rumah ke belakang rumah. Dia memprediksi bahwa jalan di muka rumah Go Tik Swan kelak akan sangat ramai. Kenyamanan bersantai di teras menjadi terganggu. Go Tik Swan pun menurut.

“Ternyata prediksi beliau terbukti,” kata Go Tik Swan. Jalan Yos Sudarso yang berada di depan rumahnya kini dipenuhi oleh lalu lalang kendaraan. Suasana menjadi bising. Namun kebisingan tersebut tidak sampai mengganggu kenyamanan duduk bersantai diteras yang berada di halaman belakang. “Itu bukti bahwa Soekarno sangat visioner,” pujinya.

Selain dikenal sebagai pembatik, Go Tik Swan juga dikenal sebagai empu keris. Di sudut rumahnya nampak sebuah baselen, tempat untuk membuat keris. Keris buatannya diproduksi dengan cara konvensional, yaitu dengan cara ditempa. Namun untuk proses penyepuhan dilakukan dengan tangan. Nyepuhi dilakukan pada keris yang sudah jadi. Nyepuhi itu untuk mengetes kehalusan garapannya. Selain itu, nyepuhi juga membuat keris lebih kuat. Ketika sedang nyepuh, empu tidak boleh pakai alat bantu seperti penjepit dan juga memakai alas kaki.

Pengabdian Go Tik Swan terhadap budaya jawa patut diapresiasi. Apalagi, dia merupakan warga keturunan Tionghoa. Berbagai penelitian baik berupa thesis dan disertasi banyak dilakukan oleh para pakar di tempatnya. Tak heran banyak yang menganggap dia sebagai literatur yang berjalan.

[ majalah saudagar -fyck]

Iklan

6 Tanggapan

  1. Pik,
    Coba kasih gambar dong yang namanya corak Batik Indonesia yang katanya perpaduan Klasik Kraton dan Pesisir.
    Kalo Perlu kasih tau dimana bisa dibeli….Ok..?

  2. salut buat oom go tik swan!!

  3. aku juga pemproduksi ampyang yang terkenal di batub jamus dengan sebutan ampyang kiringan itu menjadi ciri khas batu jamus.ampyang itu sendiri ada di pasar kwadungan. dan kami menerima pesenan, kalo mau, datang aja ke batu jamus.

  4. aku juga pemproduksi ampyang yang terkenal di batu jamus dengan sebutan ampyang kiringan itu menjadi ciri khas batu jamus.ampyang itu sendiri ada di pasar kwadungan. dan kami menerima pesenan, kalo mau, datang aja ke batu jamus.tetapi ini adalah makanan bukan batik.

  5. bsa minta no cp anda ga????
    kirim y lewat email…
    semoga qta bsa bekerja sama…

    Join us to save our Local Culture and Heritage…!!!

  6. artikel diatas sempat menyentil sedikit tentang pejabat Suronoto keraton. nah,kebetulan saya ada lah salah satu keturunan Suronoto itu yang dibuang bersama dengan Pangeran Diponegoro waktu itu ke Sulawesi.tapi sampai sekarang kamipun tidak tau lagi ikatan benang “merah”nya dengan keluarga yang ada di Jawa. bisa bantu untuk memuat artikel itu…….(kalo ada email ke saya..please).
    terima kasih sebelumnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: