Bantuan Cempe Tunai (BCT)

Dari judulnya pasti sudah pada tahu bahwa saya ingin ikut urun rembug masalah Bantuan Langsung Tunai yang akan diberikan oleh pemerintah sebagai kompensasi kenaikan harga BBM. Hanya saja bagi yang belum familiar dengan Bahasa Jawa mungkin tidak tahu apa yang dimaksud dengan cempe. Ya, cempe adalah anak kambing.

Baca lebih lanjut

Iklan

EYD terbaru versi 2008

Seorang kawan nampaknya cukup care dengan saya. Tahu kalau saya hobby menulis, ia mengirimkan sebuah email yang katanya merupakan pakem Ejaan Yang Disempurnakan versi 2008. Menurutnya pula, EYD ini telah disepakati oleh para ahli bahasa dalam sebuah kongres. Maka dari itu, saya ingin share dengan warga WP yang lain, yang mestinya juga hobby dalam tulis-menulis. Demikian email dari teman saya:
Baca lebih lanjut

Pemimpin yang Aneh

Pernahkah anda merasa sedih karena ditakdirkan untuk hidup di Indonesia? Setiap kali kita direcoki semangat untuk bangga bartanah air, teringat pula laju perkembangan negara lain yang jauh lebih pesat daripada kemajuan bangsa kita. Tidak bisa dipungkiri, kemajuan suatu bangsa sangat tergantung pada siapa yang memimpin. Celakanya, beberapa pemimpin kita justru memberikan anjuran yang justru membuat kita menjadi terpuruk.
Ada salah seorang pemimpin kita yang cukup dikenal dengan semboyannya Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Itulah mungkin yang membuat banyak orang tidak punya cita-cita. Jika pun punya, cita-citanya hanya dibiarkan menggantung ditempat yang tinggi.
Pemimpin yang lain mempunyai mantra yang lebih bagus lagi. Marilah kita mengejar ketinggalan! Ajakan ini terkesan aneh, sebab sebenarnya kemajuanlah yang harus kita kejar. Ketinggalan ya harus ditinggal.
Ada pula yang memiliki program Pengentasan kemiskinan. Program ini tergolong program yang cukup kacau, sebab seharusnya justru kemakmuranlah yang harusnya dientaskan. Kemiskinan harus ditenggelamkan.
Tekad kita sudah bulat,” kata yang lain. Entah, yang dimaksudkan olehnya tekad ataukah nekad. Lagipula mungkin karena bulat itulah nasib bangsa kita tidak ada ujung dan pangkalnya.
Halah…gitu aja kok repot

Profesi???

Pada suatu hari, saya diajak oleh mantan boss saya untuk nJagong di Magelang. Saya sebut mantan boss bukan karena dia turun jabatan, tapi karena dia sekarang menjadi boss orang lain di sebuah media cetak. Dengan ditemani oleh istri dan putrinya yang masih kelas 1 SD, meluncurlah kami ke kota seribu salak ini. Obrolan-obrolan ringan menemani perjalanan kami. Tidak banyak yang saya ingat. Namun salah satu yang membuat saya terkesan, adalah celoteh si kecil yang menolak bercita-cita sebagi dokter.

Saya sudah tidak ingat lagi, apa cita-cita saya pada waktu seusianya. Atau mungkin memang saya sama sekali tidak punya cita-cita. Wajar, jika hari ini saya akhirnya hanya menjadi buruh kecil di perusahaan tempat saya mencari kesibukan.

Beruntunglah si kecil itu, yang sejak SD telah mempunyai cita-cita sebagai guru. Bahkan ibunya harus tersenyum simpul ketika cita-cita dokter yang ditawarkannya ditolak mentah-mentah oleh si kecil. Mungkin Si Kecil sadar, bahwa untuk menjadi dokter membutuhkan biaya yang sangat besar. Menurut penuturan saudara saya yang juga seorang dokter, dirinya terpaksa memupus harapannya untuk menjadi seorang dokter spesialis kandungan karena harus menyiapkan biaya pendidikan sekitar Rp 800 juta. Sepertinya Sang Putri paham –bukan bermaksud merendahkan– biaya sebesar itu pasti sulit terjangkau oleh kedua orang tuanya yang sama-sama berprofesi sebagai jurnalis. Dia juga tidak tergiur dengan iming-iming orang tuanya yang mengatakan bahwa jadi dokter bisa kaya.

Akhirnya, sang orang tua mengalah membiarkan putrinya bermimpi memiliki profesi yang mulia tersebut. Untung, mereka tidak menawarkan cita-cita sebagaimana profesi orang tuanya. Get your dreams girl…

BBM naik, Penguasa Turun

pompa bengsinNadanya provokatif yah? Maklum, dalam kondisi gemas seperti ini paling enak ya mengumpat. Bayangkan, motor Suzuki Tornado yang saya pakai merupakan kendaraan 2 tak, boros BBM pula. Boro-boro mau ganti yang 4 tak, digadaikan saja pernah ditolak. Apalagi mendengar berita buruk bahwa harga BBM akan naik. Fiuhhh!

Sekedar usul buat pemerintah, menaikkan harga BBM bukan merupakan solusi. Beban APBN kan hanya urusan presiden, wapres dan para menteri. Bandingkan dengan inflasi yang menjadi beban jutaan masyarakat miskin.

Ingat pak, mereka konstituen anda! Mereka juga bukan type pemboros BBM. Dengan kemampuan finansial yang terbatas, mereka sudah secara alami akan berhemat-hemat dalam memakai BBM. Justru orang-orang kaya setingkat anda yang berpotensi memboroskan BBM.

Sekali lagi, kalau boleh usul:

  1. Perbaiki fasilitas kendaaan umum.
  2. Batasi kapasitas mesin kendaraan pribadi
  3. Kenakan pajak yang amat sangat tinggi bagi kendaraan bermesin besar
  4. Insentif pajak untuk kendaraan hemat BBM dan kendaraan berteknologi hybrid.
  5. Atasi kemacetan lalu lintas
  6. sita kendaraan 2 tak yang beroperasi di jalan. Kemudian pemiliknya diberi fasilitas kredit lunak tanpa bunga dengan harga yang sangat khusus dan subsidi pemerintah untuk mendapatkan kendaraan 4 tak yang hemat energi (asyiiiik)

Miskin itu enak

Pagi-pagi membaca berita terkadang juga tidak baik. Apalagi jika berita banyak yang berkategori bad news. Khawatir, geram dan bete bercampur aduk jadi satu. Hasilnya, kerja pun juga jadi kurang produktifitasnya. Buat apa kerja keras? Toh lebih enak jadi orang miskin. Lhoh???

Baca lebih lanjut