Pelajaran dari Transjakarta

Karena alasan tugas, dengan terpaksa sejak Januari lalu saya hijrah ke Ibu Kota. Selama dua bulan di Jakarta, memang tidak banyak pengalaman yang saya dapat.

Jakarta, saya rasa, mirip-mirip dengan Solo. Bangunan megah memang banyak, tapi rumah kumuh jauh lebih banyak. Mobil mewah memang melimpah, namun juga harus berhimpitan dengan bajaj yang separuh bobotnya berasal dari dempul dan puluhan lapis cat ulang.

Masalah berlalu lintas, memang segudang pengalaman baru yang tidak saya temukan di Solo. Tentunya masalah kemacetan. Tapi don’t worry be happy, ada sarana transportasi umum transjakarta, yang membuat doa kita agar tidak terjebak kemacetan sedikit banyak bisa terkabul.

Pengalaman justru banyak muncul di kendaraan yang memiliki jalan khusus itu. Maklum, nyaris tiap hari saya menumpang kendaraan berbahan bakar gas tersebut. Bukan lantaran banyak cewek di dalamnya, namun lantaran hampir bebas macet. Sangat cocok untuk orang seperti saya yang selalu ingin datang tepat waktu.

Pengalaman paling berharga, salah satunya, kita selalu mencoba peduli dengan orang lain. Dalam kondisi penuh sesak, meski lelah, terkadang kita merasa harus memberikan tempat duduk kita kepada orang tua yang tidak kebagian kursi.

Meski demikian, ternyata tidak semua orang tua merasa senang jika diberi kesempatan untuk duduk. Sering terlihat, seseorang yang secara fisik terlihat cukup uzur menampakkan aura negatifnya saat dipersilahkan duduk. Sepertinya, dia belum ikhlas untuk disebut tidak muda lagi. Sebagai catatan, hal ini biasanya berlaku untuk pria. Sedangkan wanita, usia berapapun, biasanya akan memberikan senyuman jika kita beri tempat duduk. Semakin muda, semakin manis senyumnya.

Bagi penumpang yang cenderung cuek, tingkah lakunya mudah ditebak. Saat masuk dalam bus, dia sudah main dorong, agar dapat tempat duduk. Biasanya, dia memilih tempat duduk di bagian belakang. Orang lanjut usia biasanya jarang untuk mendekat di area ini, apalagi jika bus penuh sesak.

Setelah duduk, biasanya, dia segera mengeluarkan handphone serta seutas kabel. Ujung kabel ditancapkan di handphone, ujung satunya menancap di kuping. Selanjutnya, tidur atau pura-pura tidur.

Satu lagi pelajaran berharga dalam bus itu, jangan pernah sekali-kali buang angin di dalam bus. Jendela kaca yang tertutup rapat membuat baunya cukup awet. Dari pandangan matanya, terlihat para penumpang saling tuduh. Apalagi, konon gas yang dihasilkan oleh gaplek jauh lebih dahsyat dibanding nasi atau roti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: