Kereta Lebaran yang Manusiawi

Kereta api lebaran pada tahun ini memang terlihat lebih manusiawi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tidak terlihat adanya penumpang yang menumpuk layaknya ikan asin, termasuk di kereta api kelas ekonomi.

Baca lebih lanjut

Listrik…..oh..Listrik

Sungguh rumit mengikuti gonjang-ganjingnya masalah kelistrikan di Negara kita ini. Sumber daya alam yang sedemikian melimpah ternyata tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan listrik. Hingga PLN terpaksa melakukan pemadaman bergilir, walaupun menuai protes dari berbagai pihak. Yang jelas kondisi tersebut membuat saya harus berkali-kali bertandang ke kantor PLN Area Jaringan Pelayanan Surakarta.

Namun ada hal yang menarik yang ditemui di kantor sebuah BUMN tersebut. Biasanya seorang produsen berharap agar dagangannya laris manis. Namun PLN tidak. Dirinya gencar mengkampanyekan gerakan hemat listrik. Kalau bisa pelanggan membeli listrik sesedikit mungkin. Untuk yang biasa bergerak di dunia marketing tentu akan terheran-heran dengan ajakan ini.

Yang cukup membuat salut adalah begitu konsekuennya kantor PLN ini. Memasuki lorong-lorong kantor PLN, kita akan menemui suasana remang-remang. Ruangan di mana tidak ada orang, lampu dimatikan. Ruangan pun agak gerah, karena pemakaian mesin pendingin ruangan tidak dihidupkan secara maksimal. Mereka tidak sekadar mengajak, tapi telah mempraktekannya lebih awal.

Silahkan anda lewat ke kantor yang berada di Jalan Slamet Riyadi tersebut pada malam hari. Tidak ada sebuah lampu pun yang menyala, selain lampu di pos Satuan Pengamanan (Satpam) dan dip agar untuk penerangan jalan. Dibalik tudingan ketidakbecusan menangani listrik di negeri ini, ternyata PLN tetap menunjukkan sikap yang konsekuen.

Pemimpin yang Aneh

Pernahkah anda merasa sedih karena ditakdirkan untuk hidup di Indonesia? Setiap kali kita direcoki semangat untuk bangga bartanah air, teringat pula laju perkembangan negara lain yang jauh lebih pesat daripada kemajuan bangsa kita. Tidak bisa dipungkiri, kemajuan suatu bangsa sangat tergantung pada siapa yang memimpin. Celakanya, beberapa pemimpin kita justru memberikan anjuran yang justru membuat kita menjadi terpuruk.
Ada salah seorang pemimpin kita yang cukup dikenal dengan semboyannya Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Itulah mungkin yang membuat banyak orang tidak punya cita-cita. Jika pun punya, cita-citanya hanya dibiarkan menggantung ditempat yang tinggi.
Pemimpin yang lain mempunyai mantra yang lebih bagus lagi. Marilah kita mengejar ketinggalan! Ajakan ini terkesan aneh, sebab sebenarnya kemajuanlah yang harus kita kejar. Ketinggalan ya harus ditinggal.
Ada pula yang memiliki program Pengentasan kemiskinan. Program ini tergolong program yang cukup kacau, sebab seharusnya justru kemakmuranlah yang harusnya dientaskan. Kemiskinan harus ditenggelamkan.
Tekad kita sudah bulat,” kata yang lain. Entah, yang dimaksudkan olehnya tekad ataukah nekad. Lagipula mungkin karena bulat itulah nasib bangsa kita tidak ada ujung dan pangkalnya.
Halah…gitu aja kok repot

Miskin itu enak

Pagi-pagi membaca berita terkadang juga tidak baik. Apalagi jika berita banyak yang berkategori bad news. Khawatir, geram dan bete bercampur aduk jadi satu. Hasilnya, kerja pun juga jadi kurang produktifitasnya. Buat apa kerja keras? Toh lebih enak jadi orang miskin. Lhoh???

Baca lebih lanjut

Pembatik ampyang kacang cina gula jawa

(dimuat di majalah saudagar)

Tidak mudah menemukan seorang budayawan yang serba bisa. Solo beruntung memiliki salah satunya. Seorang penari sekaligus pembatik, arkeolog, arsitek sekaligus kolektor benda seni. Dia adalah KRT Hardjonagoro.

Baca lebih lanjut

Ketahanan Pangan atau Menahan Makan?

(dimuat di majalah saudagar)

Beberapa waktu terakhir merupakan hari-hari buruk bagi para penggemar tempe dan tahu. Makanan rakyat tersebut kini bukan barang murah lagi. Di pasaran harga makanan padat gizi tersebut membubung tinggi. Atau jika harganya tidak naik, bentuknya berubah menjadi lebih kecil. Hal itu terjadi lantaran harga kedelai yang masih melambung hingga dua kali lipat. Seperti di Yogya misalnya, kedelai yang dahulu seharga Rp 3.500 kini naik hingga mencapai Rp 7.500. Baca lebih lanjut

Menata Pasar Dengan Hati

(dimuat di Majalah saudagar)

Sempitnya lapangan kerja di bidang formal membuat masyarakat perlu kreatif dalam mendapatkan penghidupan. Apalagi lembaga pendidikan masih terus menghasilkan output yang cukup besar. Semua bersaing dalam mencari pekerjaan. Pemerintah sepertinya masih belum mempunyai formula yang cukup ampuh untuk mengatasi pengangguran. Hal tersebut memberi kontribusi yang cukup besar dari besarnya angka kemiskinan di Indonesia.

Baca lebih lanjut